Home > Sosok > Eka Nila Koesrini, M.Pd. Belajar dari Rasa Sakit

Eka Nila Koesrini, M.Pd. Belajar dari Rasa Sakit

Tonggak Awal SD UMP

Setiap kita tentu berharap karunia kesehatan dan produktivitas dalam menganyam hari. Kedua hal ini tidak terkecuali diinginkan oleh Eka Nila Koesrini, M.Pd.

Perempuan kelahiran 7 Oktober 1976 yang karib dipanggil dengan nama Nila—sesuai warna kesukaan ibundanya—ini adalah salah satu tonggak awal penopang SD UMP. Bersama Hj. Sholikhah, S.Pd. (Kepala SD UMP periode 2010-2012, sekarang sudah purna tugas), Nofiyanto, S.Pd., serta Sulhan Arifin, S.Pd.I. (kini bertugas di Fakultas Teknik UMP), ia mengawali kelahiran SD UMP mulai dari berkantor di bilik sempit sebelah selatan Masjid Ahmad Dahlan UMP (kini, tempat itu sudah tidak ada) hingga memiliki gedung sendiri di Jalan Senopati nomor 17, Dukuhwaluh, Kembaran, Banyumas.

Tidak terhitung berapa kali empat orang ini hilir mudik ke sana kemari guna mempersiapkan kelahiran SD UMP. Sebut sebagai contoh, misalnya, mengikuti perkuliahan di PGSD UMP dan magang di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Belum lagi koordinasi dan konsultasi ke sejumlah pihak yang bertalian erat dengan perizinan pendirian sekolah baru.

Menariknya dan hal ini lebih dari pantas untuk disyukuri, izin operasional SD UMP dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, turun sebelum tahun ajaran 2011-2012 resmi dimulai. Alhamdulillah.

Hal tersebut terwujud atas kerjasama solid antara awak SD UMP serta petinggi universitas yang terlibat menangani secara langsung seperti Karma Iswasta Eka, M.Si. (saat itu, Kaprodi PGSD FKIP UMP), Joko Purwanto, M.Si. (saat itu, Dekan FKIP UMP), Mintaraga Eman Surya, M.A. (saat itu, Kepala LPPI UMP), dan Naelati Tubastuvi, M.Si. (waktu itu, Wakil Rektor 2 UMP) serta atas berkat rahmat Allah Ta’ala—tentu saja.

Kesibukan para punggawa generasi awal makin bertambah tatkala menjelang akhir tahun 2010, gedung SD UMP selesai dibangun. Artinya, ruangan sudah siap dipakai. Tinggal menunggu penghuninya.

Keempatnya pun rutin beranjangsana ke berbagai TK untuk menjaring siswa baru.

Buah dari usaha itu, alhamdulillah, pada tahun pertama menyelenggarakan pendidikan, SD UMP langsung menerima siswa sejumlah 60 anak untuk kuota dua kelas. Sekali lagi, alhamdulillah.

Amanah Baru yang Disandang

Awal Agustus 2012, tokoh kita kali ini diangkat menjadi Kepala SD UMP, menggantikan Hj. Sholikhah, S.Pd. yang pensiun.

Bermula dari amanah baru itulah, ia kian sibuk mengurusi sekolah. Bahkan tak lama berselang, ia melakukan lawatan kerja ke sekolah-sekolah di Singapura dan Malaysia bersama rekan-rekan dari Jaringan Penggerak Sekolah Muhammadiyah (JPSM) se-Indonesia.

Sepulang dari Tanah Melayu itu, istri dari dr. H. Nazwan Hassa, Sp.S. ini kembali magang di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta bersama tiga guru baru SD UMP.

Berselang bulan kemudian, ia kembali terbang ke Singapura dan Malaysia. Kali itu, dari SD UMP, ia tidak sendirian saja, melainkan bersama tiga siswa. Keempatnya bergabung dengan rombongan dari SD-SD Muhammadiyah dari sejumlah penjuru Pulau Jawa untuk mengikuti program Student Exchange.

Pada masa kepemimpinannya, gedung SD UMP sebelah barat, dibangun. Sebulan kemudian, ia turut mendorong penciptaan rekor MURI bagi Fadhilatunnisa Aghnia Ramadhani, siswa SD UMP yang menulis buku harian mulai usia lima tahun.

Sementara itu, tanpa ia sadari, sebuah penyakit mengendap-endap, bersiap menerkamnya.

Keping Puzzle yang Terlewat

Pada Februari 2012, tatkala mengunjungi SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta guna membahas persiapan magang guru, lulusan S2 Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret ini, terpeleset di tempat wudhu. Kejadian itu menimbulkan rasa pegal serta linu di bagian tulang ekor. Namun, ia tidak terlalu menggubrisnya. Pengobatan yang dilakukan pun a la kadarnya saja, sekadar diurut menggunakan minyak gosok.

Kesibukan yang beruntunan, selanjutnya membuat ia mengabaikan rasa pegal yang secara temporal bertandang. Pengobatan yang ia lakukan pun sama seperti sebelumnya, ditambah kadang-kadang minum obat pereda sakit.

Ramadan 2014, kejadian yang hampir sama seperti di tempat wudhu SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, kembali berulang. Kali itu, ia yang baru selesai mengikuti iktikaf di Masjid Ahmad Dahlan UMP, terpeleset manakala mengambil sepeda motor di tempat parkir, sebelum pulang.

Sejak itu, ia merasakan tulang ekornya semakin berdenyut pegal. Bahkan rasa sakit itu menjalar hingga paha serta betis kaki kanan. Anehnya, di bagian tulang ekor terasa muncul sebuah benjolan.

Minyak gosok yang sebelumnya menjadi andalan, tidak lagi berguna. Obat pereda sakit pun tidak banyak membantu. Sementara, dari bagian tulang ekor hingga betis kaki kanan tetap sakit dan tegang kaku—atau mantheng dalam bahasa Jawa.

Sayangnya, ia masih juga tidak mengacuhkan rasa sakit itu.

Dan perjalanan mudik 2014 menuju daerah asal suami dan orang tua, membuatnya terpaksa duduk berlama-lama dalam mobil yang terperangkap kemacetan parah.

Rasa sakit bercampur pegal berubah kian menjadi. Tubuhnya tidak nyaman diajak beraktivitas apapun. Jalan sukar. Duduk sakit. Tidur tidak nyaman.

Pada saat itulah, ia mulai meyakini ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.

Ujian Itu

Beberapa hari setelah siswa kembali bersekolah usai libur Lebaran 2014, sulung dari pasangan Soeripto dan Koestini ini, terperanjat tatkala mendapati dirinya tidak bisa duduk dan tidak bisa berjalan. Ia pun bergegas dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas.

Dalam hitungan hari, ia dirujuk ke Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang lantaran dokter di rumah sakit sebelumnya tidak sanggup menangani.

Melalui serangkaian pemeriksaan, ketahuan bahwa ia mengalami saraf kejepit yang meradang ke saraf-saraf di sekitarnya. Itulah sebabnya, bagian tulang ekornya kentara menonjol atau menurut bahasa dirinya sendiri: wis njepret.

Kegelisahan menerima penjelasan dokter membuat pikirannya melayang ke sana kemari, mencari keping puzzle peristiwa terlewat, yang mungkin bisa dianggap sebagai bagian penyebab hadirnya penyakit tersebut yang sebelumnya luput ia perhatikan.

Dugaannya mengarah pada dua kejadian dalam rentang waktu berbeda. Dan kemudian, dokter menguatkan dugaan tersebut menjadi keyakinan.

Sejak saat itulah, ia harus mengikuti serangkaian tindakan dan terapi di Rumah Sakit Dokter Kariadi. Praktis, sejak itu, ia harus tinggal di lingkungan sekitar rumah sakit guna memudahkan mobilitas.

Uluran Kasih Sang Maha

Nila meyakini Allah menurunkan segala sesuatu secara komplet atau paket lengkap. Ketika Ia menurunkan cobaan, Ia pun pasti menyodorkan pintu keluar masalah.

Kepercayaan inilah yang membuat mental pendiri Elian Center—tempat terapi bagi anak berkebutuhan khusus—lebih tangguh. Bukti terdekat yang tidak dapat ditampik ialah ketika ia sedang sakit saraf, alhamdulillah, Allah menghadirkan pendamping hidup yang sejak jauh hari sebelumnya sudah berprofesi sebagai dokter saraf dan saat itu tengah menempuh studi lanjut mengenai ihwal yang sama. Bukti kedua, tempat ia dirawat sama dengan lokasi suaminya belajar. Maka, nikmat Tuhan manakah yang pantas didustakan?

Sisi lainnya, ketika ia nonaktif sebagai kepala sekolah, ada Nofiyanto, S.Pd., sang wakil, yang mengambil alih kendali kepemimpinan.

Sisi berikut, kedua pelita hatinya: Fathia Al Aida Hassa (usia 10 tahun, saat itu) dan Tsabita Huwaida Hassa (umur empat tahun) tergolong anak yang penurut dan mudah pengasuhannya, hingga mereka rela hati membiarkan ummi-nya berbulan-bulan tidak pulang, karena harus mondok di Semarang.

Kejadian lain yang mempertebal keyakinan akan kemahabesaran dan kemahakuasaan Allah adalah tatkala suatu hari menjelang siang, dalam keadaan sadar sepenuhnya, ia yang tengah berbaring di salah satu ruangan di Rumah Sakit Dokter Kariadi, melihat dua sosok misterius menemuinya. Mulanya, Nila mengira yang datang adalah om dan bulik-nya. Tapi, aneh, keduanya masuk ke ruang perawatan tanpa membuka pintu. Herannya, tubuh mereka tampak menyilaukan dengan bagian wajah sangat terang, sehingga sukar dilihat.

Mereka mengucapkan salam, kemudian memegang kaki Nila. Lalu tampak berdoa. Tidak lama berselang, keduanya mengajak Nila pergi memasuki jendela lebar yang dari dalamnya memancar sinar menyilaukan. Padahal sebelumnya, jendela itu tidak ada di sana!

Nila sangat heran dan tidak mau ikut pergi.

“Aku belum pamit. Tunggu sebentar sampai suamiku datang, baru aku bisa minta izin,” ujarnya.

Tiba-tiba, ia merasa tubuhnya melayang dengan sendirinya menuju jendela penuh cahaya itu. Ia sangat heran, namun tidak bisa berbuat banyak, karena badannya belum dapat digerakkan. Ia hanya memperbanyak mengucapkan kalimat-kalimat thayibbah. Begitu masuk ke jendela, ia segera memejamkan mata, lantaran silau.

Tahu-tahu, ia sudah ada di tempatnya semula. Ajaibnya, begitu membuka mata, ia merasa ada hawa panas yang timbul dari kepala lalu berangsur-angsur menurun ke leher, dada, perut, hingga kaki.

Sejak itu, ia merasa proses pengobatannya jadi mudah dan lancar. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Hadiah di Tikungan Jalan

Setelah kesehatannya membaik, Nila diperbolehkan pulang. Ia pun diizinkan melanjutkan terapi penyembuhan di Rumah Sakit Geriatri Purwokerto.

Dalam salah satu kesempatan terapi, ia mendapat informasi dari sesama pasien mengenai seorang ibu yang bisa membantu memijat pasien saraf kejepit. Qadarullah, perempuan bernama Napsiah itu bermukim tidak jauh dari lingkungan SD UMP. Ditambah lagi, ternyata, sebelumnya ia sudah mengenal suami perempuan itu. Laki-laki yang dimaksud tidak lain adalah Siwan, S.Pd., guru SD Negeri 2 Dukuhwaluh.

Nila menyadari, kesehatan merupakan modal penting untuk beribadah dan produktif di jalan kebaikan. Oleh karena itulah, di samping ikhtiar mengikuti fisioterapi dan hidroterapi di Rumah Sakit Geriatri serta menjalani pemijatan akupresur secara rutin, ia juga berusaha disiplin mengatur asupan nutrisi. Misalnya dengan rajin meminum jus bayam campur seledri, jus kacang panjang, jus daun kelor, atau kolang-kaling campur madu secara teratur.

Alhamdulillah, kondisi tubuhnya berangsur membaik, meski tidak berarti ia sudah bebas beraktivitas seperti sediakala. Pernah, beberapa bulan setelah tubuh kembali sehat, ia mencoba naik ke lantai tiga Gedung Rektorat UMP untuk mengikuti pembinaan pegawai. Akibatnya, bagian tulang ekor hingga paha kanannya kembali sakit dan ia terpaksa diangkut turun menggunakan tandu. Padahal, ia naik ke Aula AK Anshori itu dengan langkah perlahan, tanpa grusa-grusu.

Pernah juga dalam kesempatan lain ia mengikuti jalan sehat—dalam rangka Milad UMP—dari kampus satu di Dukuhwaluh sampai kampus dua di Sokaraja. Usai itu, sakit yang sama kembali menyerang.

Namun, setelah bilangan tahun terlewati, sakit yang sama tidak kembali berulang. Yang ia lakukan hanya perlu lebih berhati-hati. Dengan kehati-hatiannya itu, alhamdulillah, sekarang ia sudah bisa kembali menghadiri acara di tempat berlokasi tinggi, seperti Wisuda Quran Kelas VI Tahun Ajaran 2016-2017 di Aula AK Anshori Gedung Rektorat UMP lantai tiga atau acara Nonton Bareng dan Diskusi Film Pengkhianatan G 30 S/ PKI di lantai lima gedung Fakultas Teknik UMP.

Dan seolah-olah, Allah hendak memberi hadiah atas usaha kakak dari jurnalis televisi ini dengan menganugerahinya buah hati ketiga. Ya. Di usia 39 tahun, Yang Mahakuasa mengamanahinya seorang anak laki-laki sebagai penggenap kebahagiaan keluarga. Laki-laki itu, kemudian, diberi nama Muhammad Zabran Malik Hassa.

Sementara, menurut penjelasan dokter, proses kehamilan dan persalinan, justru mempercepat penstabilan dan pengembalian saraf tulang belakang ke posisi sediakala hingga kembali normal. Masya Allah!

Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *