Home > Sosok > Nofiyanto, S.Pd. Riwayat Sang Aktivis

Nofiyanto, S.Pd. Riwayat Sang Aktivis

Awal Mula Sang Aktivis

Keadaan masa kecil tidaklah menggambarkan kenyataan di masa dewasa.

Rasanya, kalimat tersebut cocok dilekatkan pada sosok Nofiyanto, S.Pd. yang karib dipanggil Nofi atau NF ini.

Sejak mengikuti pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ia tidak pernah berminat mengikuti ekstrakurikuler dan organisasi apa pun. Hanya Pramuka saja yang ia ikuti saat bersekolah. Itu pun atas dasar keharusan belaka. Sebab, seperti yang kita ketahui bersama, Pramuka merupakan ekstrakurikuler yang wajib diikuti para siswa jenjang kelas tertentu di sekolah negeri dan sebagian sekolah swasta.

Keharusan dan rasa wajib itu pula yang membuatnya mencukupkan diri sekadar sebagai peserta. Tidak ada keinginan untuk memasuki jajaran struktural pengurus, semacam menjadi dewan penegak atau dewan ambalan.

Namun, siapa nyana keadaan justru sama sekali berbeda ketika ia telah memasuki gerbang universitas?

Dimulai sejak semester tiga di bangku kuliah jurusan Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), laki-laki kelahiran Banyumas, 22 November 1986 ini terpikat dunia keorganisasian. Hal tersebut terjadi tatkala ia memutuskan ngekos di lingkungan sekitar kampus setelah selama semester satu dan dua merasa kerepotan menempuh jarak ulang-alik dari tempat tinggal di Jatilawang ke lokasi kuliah di Dukuhwaluh.

Waktu itu, ia menganggap organisasi sebagai dunia baru yang menarik untuk digeluti. Ditambah lagi, teman-teman di sekelilingnya, baik di lingkup kos maupun tempat kuliah, merupakan para penggiat organisasi. Mereka kemudian mendorong NF untuk menceburkan diri dalam dunia baru yang sebetulnya masih terasa asing. Dan NF dengan sadar serta sukarela menyambut baik uluran ajakan tersebut.

 

Merengkuh Dua Dunia

NF tidak membayangkan betapa serba-serbi organisasi ternyata amat menarik. Bersosialisasi, bercengkerama, berdiskusi, dan saling tukar pikiran saat mengonsep kegiatan kemahasiswaan dengan teman-teman beragam latar belakang, rupanya membuat ia merasa berkembang dalam hal wawasan juga kepribadian. Sebab itulah, ia tidak mau hanya menekuni satu jenis organisasi. Selanjutnya, ia juga melibatkan diri dalam organisasi-organisasi lain. Kali itu, ia tidak lagi tercatat sebagai peserta, melainkan masuk dalam struktural kepengurusan. Dan tidak tanggung-tanggung, aneka jabatan yang ia pangku pun tergolong prestisius.

Jabatan-jabatan yang dimaksud antara lain Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi UMP (masa bakti 2006-2007), Menteri Agama Badan Eksekutif Mahasiswa UMP (masa bakti 2006-2007), Menteri Advokasi Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa UMP (masa bakti 2007-2008), Ketua Lembaga Dakwah Kampus Al Kahfi UMP (masa bakti 2007-2008), Seksi Syiar dan Hubungan Masyarakat Ikatan Remaja Masjid Ahmad Dahlan UMP (masa bakti 2006-2009), staf pengajar Taman Pendidikan Al Quran dan Madrasah Diniyah Masjid Ahmad Dahlan UMP (masa bakti 2006-2009), mentor keislaman bagi mahasiswa semester I-II Program Studi Pendidikan Sejarah dan Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam UMP (masa bakti 2007-2009).

Dengan serbaneka jabatan tersebut, tidak membuat NF melalaikan kuliah. Ia mengaku, selama berkuliah, jarang sekali tidak berangkat. Baginya, pendidikan formal amat penting untuk ditekuni. Sebab, selain guna menambah pundi-pundi pengetahuan dalam rongga otak, juga menyangkut tanggung jawab moral pada orang tua yang sudah berkenan membiayai.

Atas dasar kesadaran itu, ia termotivasi untuk giat belajar, hingga saat lulus, indeks prestasi kumulatifnya mencapai 3,68.

Generasi Awal Punggawa SD UMP

Usai lulus kuliah pada Oktober 2009, NF bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar sembari melebarkan mata dan menajamkan telinga untuk menemukan pintu-pintu kesempatan yang lebih progresif.

Saat itulah, ia mendapat informasi lowongan pekerjaan sebagai guru di sebuah bakal sekolah yang tengah dirintis. Tanpa menunggu lama, ia pun menggabungkan diri dalam kerumunan para pendaftar.

Qadarullah, setelah melewati sekian lapis jenis tes, penyuka benda-benda klasik ini, dinyatakan lolos dan diterima sebagai staf pengajar di calon sekolah baru yang dinaungi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Calon sekolah yang—saat itu—belum memiliki staf pendidik maupun bangunan tempat melangsungkan kegiatan belajar-mengajar, kelak dikenal dengan nama SD UMP.

Sebagai generasi awal punggawa SD UMP, NF tidak bersendiri. Kawan-kawan sekancah dalam  mengayuh laju SD UMP adalah Eka Nila Koesrini, M.Pd. (profilnya telah dimuat dalam majalah Kreasi edisi 3) dan Sulhan Arifin, S.Pd.I. (saat ini bertugas di Fakultas Teknik UMP), disusul Sholikhah, S.Pd. (Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Banyumas yang lalu diamanahi menjadi Kepala SD UMP periode 2010-2012).

NF turut memikirkan strategi pengembangan sekolah sekaligus menyingsingkan lengan baju untuk menjaring para calon siswa baru. Alhamdulillah, usahanya bersama kawan-kawan seperjuangan berbuah manis. Pada pembukaan perdana saat tahun ajaran 2011-2012, SD UMP mendapat jumlah siswa yang lebih dari cukup, yakni 62 anak yang selanjutnya dibagi ke dalam dua kelas.

Dengan dimulainya tahun ajaran tersebut, maka dimulai juga tugas utama NF sebagai guru ialah mengajar siswa. Waktu itu, guna langkah awal, kepala sekolah mendapuknya menjadi Wali Kelas I Ahmad Dahlan.

Kegiatan sehari-hari sebagai pengajar, tidak membuat NF berhenti berkecimpung dalam organisasi. Dalam jajaran struktur pengurus organisasi sekolah, ia sempat menyandang tanggung jawab sebagai Wakil Kepala SD UMP (periode 2012-2014 dan 2014-2015) dan Kepala Bagian Sarana Prasarana SD UMP (periode 2014-2015 dan 2015-2016). Dalam lingkup kawasan tempat tinggal, ia mengampu tugas sebagai Seksi Bidang Dakwah Takmir Masjid Al Ikhlas Bantarwuni.

Tidak hanya berorganisasi, mobilitas NF dalam bidang peningkatan kualitas diri dan lembaga juga—bisa dibilang—cukup padat. Ia mengikuti studi-studi komparatif di sederet sekolah terbaik di Tanah Air maupun negeri manca, seperti di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, SD Muhammadiyah 26 Surabaya, SD Muhammadiyah Plus Salatiga, juga Sekolah Kebangsaan Saint Paul, Matrix Global School, dan Sekolah Kebangsaan Syekh Mohd. Hussein Al Marbawi. Ketiga sekolah yang disebut terakhir merupakan sekolah-sekolah terbaik di Malaysia.

Pada paruh kedua tahun 2015, ia mendapat perintah tugas belajar dari UMP untuk menimba ilmu di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Praktis, fokusnya beralih dari kesibukan mengajar dan mengelola sekolah menjadi belajar di universitas. Meski demikian, ia tetap berusaha aktif dalam organisasi yang beririsan dengan sekolah maupun institusi tempatnya bekerja, ialah dengan bergiat di Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Qabilah SD UMP dan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah Cabang UMP, di samping tetap menjadi pengurus masjid di dekat rumah.

Alhamdulillah, meski ditindih pelbagai aktivitas yang lumayan bertumpuk, ia tetap dapat berkuliah sebaik-baiknya. Sampai dengan tulisan ini dibuat, indeks prestasi kumulatif yang ia peroleh adalah 3,65.

Masa Membagi Kegiatan

Pada 17 Mei 2011, NF menikahi Lilis Puspita Sari, S.Pd., gadis yang dikenalnya lewat organisasi kampus. Sebelas bulang berselang, tepatnya pada 15 April 2012, ia dan istri dikaruniai cahaya hati yang diberi nama Chayrra Putri Alifiandra. Tanpa menunggu terlalu lama, keluarga kecil itu kembali beroleh anugerah dengan kehadiran anak kedua pada 23 September 2013. Nama yang disematkan pada sang bayi laki-laki adalah Ahnaf Tsaqif Alifiandra.

Sedari melayarkan bahtera rumah tangga itulah, ia mulai mengendurkan produktivitasnya di luar rumah. Sebab, pada saat yang sama, ia beranggapan perlu lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang tercinta yang menjadi anggota dalam kapal kehidupan yang ia nakhkodai.

NF merasa bercengkerama dengan keluarga merupakan kebahagiaan yang tidak bisa digantikan apapun, seperti misalnya reriungan bersama teman-teman organisasi.

Soal harapan pada sepasang buah hati, ia tidak memancangkan banyak target. Keinginannya sederhana namun sekaligus lengkap, “Saya ingin anak-anak lebih teguh memegang ajaran agama.” Ia tidak atau belum menyimpan berkas asa, anak-anaknya kelak mengikuti jejaknya menjadi aktivis banyak organisasi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *