Home > Sosok > Sunhaji, S.Ag

Sunhaji, S.Ag

Kita sudah sama-sama mahfum betapa lingkungan memiliki pengaruh besar dengan perkembangan kecenderungan seseorang.
Demikian pula yang terjadi dengan H. Sunhaji, S.Ag. Laki-laki kelahiran Cilacap, 26 September 1963 ini tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat yang menggemari wayang kulit. Hampir setiap ada hajatan, entah pernikahan atau khitanan, acara hiburan yang ditampilkan adalah pagelaran wayang kulit. Dan Sunhaji kecil, tidak pernah melewatkan setiap pagelaran yang disuguhkan semalam suntuk itu.
Lambat-laun, ia tidak hanya suka menonton saja, melainkan ingin bisa juga memainkan wayang. Untuk mewujudkan keinginan itu, ia rajin melahap cerita-cerita wayang dalam majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat. Tak cukup sampai di situ, ia pun menyisihkan uang saku untuk membeli buku-buku cerita wayang yang dijajakan di emperan toko (waktu itu, toko buku belum menjamur seperti sekarang). Tak puas sampai di situ, uang sakunya pun dibelanjakan wayang-wayang kardus yang dijual di tepi pantai Cilacap, tiap libur Lebaran. Kendati terbuat dari kardus, wayang-wayang itu memiliki bentuk dan ukuran yang serupa dengan wayang kulit asli.
Berbekal wayang itulah, Sunhaji kecil mulai mengadakan pagelaran wayang kecil-kecilan di dapur keluarganya yang berukuran luas. Tampil sebagai pengrawit ialah para pemuda tetangga. Alat karawitan yang digunakan terbilang sederhana, hanya saron, kempul, kendang.
Pagelaran wayang kecil-kecilan itu dilaksanakan tiap malam Rabu dan Sabtu. Penontonnya tetangga sekitar yang lama-lama makin banyak, hingga untuk lebih menertibkan, disiapkan penjaga pintu masuk. Penjaga pintu itu tidak lain tidak bukan adalah teman main Sunhaji sendiri. Tugasnya menarik ‘bayaran’ tontonan. Bayarannya bukan uang, melainkan permainan anak, semacam karet gelang, kelereng, atau kartu umbul wayang. Dalam bilangan bulan, jumlah penonton makin bertambah, hingga kemudian menarik minat para pedagang makanan untuk menjajakan dagangan mereka di sekitar dapur rumah keluarga Sunhaji, tiap malam pagelaran wayang berlangsung. Jadilah kebun di sekitar dapur keluarga Sunhaji layaknya pasar malam, tiap Rabu dan Sabtu.
Karena rutin pentas wayang semalam suntuk, esoknya anak kelas lima SD Negeri Teladan Center Tritih Wetan ini, diserang kantuk. Bila pagelaran di Sabtu malam, ia bisa tidur saat Ahad paginya. Namun, untuk pagelaran di Rabu malam, ia terpaksa tidak berangkat sekolah, saat esok hari.
Lama-kelamaan, guru kelasnya bertanya-tanya, kenapa setiap Kamis, anak didiknya itu tidak berangkat sekolah? Setelah bertanya pada siswa-siswa lain, akhirnya guru tahu kalau Sunhaji tidak bisa berangkat karena kecapekan setelah pentas semalam suntuk. Dipanggillah anak bungsu dari tiga bersaudara itu untuk menghadap wali kelas di ruang guru.
Sunhaji kecil, gemetar bukan main. Dia mengira akan dimarahi habis-habisan oleh sang guru. Namun, ternyata, perkiraannya meleset. Bukannya diomeli, ia justru ditanya baik-baik dan bahkan disemangati sang guru untuk melanjutkan kegiatan bermuatan seni budaya itu.
Sunhaji kecil girang bukan kepalang. Apalagi, sang guru yang bernama Soenardjo itu, juga mengajaknya untuk mementaskan pagelaran wayang kulit di halaman sekolah. Selanjutnya, dengan dukungan guru dan kepala sekolah, ia rutin mementaskan wayang di lingkungan untuk kegiatan belajar-mengajar itu. Bahkan kemudian, ia pun mulai berani menerima tawaran manggung dalam hajatan khitanan teman-teman sekolahnya. Terhitung, ada enam teman yang pesta khitanannya dihibur dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang cilik Sunhaji.
Pada saat itulah, ia mulai menerima bayaran dalam bentuk uang. Jumlahnya tidak pasti, namun sangat ia syukuri.
Rupanya, kegiatan Sunhaji kecil dalam seni pedalangan itu, tidak menggembirakan kedua orang tuanya. Sejak semula, orang tua berusaha melarang anaknya itu menonton atau menyelenggarakan pagelaran wayang. Menurut pemahaman sang bapak, kebanyakan cerita wayang bermuatan ajaran munkar seperti kesyirikan atau khurafat. Namun, kesukaan sang anak pada dunia pakeliran tidak bisa dibelokkan begitu saja. Sebab itu, orang tua akhirnya sedikit melunak. Sunhaji kecil, boleh pergi menonton atau mendalang, hanya setelah melaksanakan shalat wajib dan sudah tadarus Quran minimal dua lembar, setiap harinya.
Dan setelah si anak bontot lulus SD, orang tua tidak tawar-menawar lagi. Sunhaji segera dikirim ke Pesantren Madrasah Wathaniyah Islamiyah (MWI) Kebarongan di Banyumas untuk menekuni ilmu-ilmu agama. Padahal, di saat yang sama, ia mendapat beasiswa dari bupati Cilacap untuk meneruskan sekolah lanjutan di tempat terbaik di daerah pesisir itu sambil belajar di sanggar seni pedalangan. Waktu itu, nama Sunhaji sebagai dalang cilik, memang cukup masyur di penjuru Kabupaten Cilacap.
Saat belum dua bulan belajar di kelas satu Pesantrean MWI Kebarongan itu, ia kembali dihubungi Kepala SD Negeri Teladan Center Tritih Wetan. Titahnya, Sunhaji harus kembali ke sekolah itu untuk pagelaran wayang guna menyambut tamu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Dari Cilacap, ia dijemput dua orang guru bersepeda motor.
Pesan kepala sekolah, Sunhaji tidak boleh mengaku sebagai siswa kelas satu tsanawiyah. Ia harus mengatakan kalau masih mengenyam bangku kelas enam SD. Meski berat, ia terpaksa mematuhi perintah kepala sekolah. Peristiwa pagelaran wayang kulit itu, kelak tidak akan bisa dilupakan Sunhaji setelah dewasa. Apalagi, kegiatan itu diabadikan dalam bentuk rekaman video dan disiarkan oleh TVRI Yogyakarta.

Kegemaran pada wayang justru mulai pudar sekembali dari pagelaran di Cilacap. Di bangku tsanawiyah, saat mulai mendalami ilmu-ilmu agama, ia mulai merasakan kebenaran kata-kata bapaknya, bahwa kebanyakan cerita wayang, mengandung ajaran yang bertentangan dengan agama. Terjadilah pertentangan batin, antara tetap menekuni kegiatan seni pedalangan atau meninggalkannya sama sekali.
Perjalanan waktu membuatnya menempuh pilihan kedua. Selanjutnya, ia memilih menekuni salah satu organisasi di pesantren, yakni Ikatan Pelajar Madrasah Wathaniyah Islamiyah (IPMAWI). Dalam struktur organisasi itu, ia didapuk sebagai Seksi Dakwah. Tugasnya berceramah keliling desa.
Dalam safari dakwah itu, ia kemudian menemukan ide untuk berceramah menggunakan media wayang. Dan setelah dicoba satu-dua kali, ternyata jamaah peserta ceramah terlihat senang dengan adanya media itu. Rupanya, penggunaan media wayang sangat efektif. Bertolak dari momen itulah, ia memutuskan kembali menekuni dunia pedalangan dengan mengolaborasikannya dengan nilai-nilai keislaman.

Sudah tidak terhitung jumlah pagelaran wayang yang dilakoni. Namun, dari banyak bilangan itu, ada satu pagelaran yang demikian berkesan di lubuk benaknya, ialah saat ia mendapat kesempatan untuk mendalang di Lapas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Pihak pengundangnya bukan main-main, yaitu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Sementara penontonnya adalah ribuan narapida yang mayoritas pelaku kejahatan terorisme. Waktu itu, lakon yang ia bawakan berjudul Alap-Alap Antareja.
Berkisah tentang Antareja yang tidak terima dengan pemerintah kerajaan. Tetapi, ia tidak mau menyampaikan kritikan dan keluhannya pada pihak istana. Ia justru menunjukkan pertentangan dengan cara menyulut kerusuhan di mana-mana. Sampai akhirnya ia ditangkap oleh Kresna dan disadarkan bahwa untuk melakukan sebuah perubahan, diperlukan cara-cara makruf dan persuasif positif, bukan lewat serangkaian kegiatan destruktif radikal.
Lewat lakon tersebut, ia ingin, para narapidana terorisme dapat meralat pemikiran keliru dan kembali pada rel kebenaran sesuai sunnah nabi.

Tahun 1993, pemilik nama panggung Ki Sunan Sunhaji ini menikah dengan Nur Hidayah. Dari rahim perempuan pengelola TPQ Baitul Hikmah Purwokerto Timur itu, lahir empat orang anak, terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan.
Sama seperti bapaknya, keempat anak juga menyukai wayang. Namun, anak bungsulah yang lebih giat belajar wayang. Bahkan, di usia yang baru sebelas tahun, ia sudah manggung di pelbagai acara. Sebut sebagai misal silaturahmi guru sekecamatan Kembaran, Gemilang SD UMP, open house Al Irsyad Al Islamiyah di alun-alun Purwokerto dan Taman Andang Pangrenan, dan musyawarah ‘Aisyiyah sekecamatan Purwokerto Timur.
Kepala SD UMP ini berharap putra bungsunya bisa meneruskan jejak sang bapak dengan lebih gemilang. Di samping itu, ia selalu menekankan bahwa wayang jangan dijadikan tontonan mutlak, melainkan dijadikan tontonan yang membawa tuntunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *